Dokter Iswiyanti Widyawati, Sosok Wanita Inspiratif dan Ibu Mertua Idaman

Dokter Iswiyanti Widyawati, Sosok Wanita Inspiratif dan Ibu Mertua Idaman

Sabtu pagi biasanya menjadi agenda bersih-bersih dan mencuci baju bagi saya. Terkadang juga menjadi hari penelitian masakan kue maupun makanan berat karena seluruh anggota keluarga berkumpul di hari sabtu. Tapi ritual rutin itu saya skip karena ada ajakan yang menyenangkan.

Pagi-pagi saat semua orang belanja ke pasar saya pergi sarapan bersama Ibu Dokter Iswiyanti Widyawati, M.Kes  dan beberapa teman lainnya. Bukan sarapan biasa pikir saya, karena sembari berkenalan dan bercengkerama dengan sosok yang biasa dipanggil Ummi Iswi yang katanya sangat keren dan menginspirasi.

Saat beliau memasuki restoran bersama anak-anaknya dan satu orang cucu, terlihat anggun dengan pakaian putih dan kerudung berwarna kuning. Terlihat sangat kalem dan pasti bertolak belakang dengan saya yang suka guyonan, pikir saya pertama kali. Saat bersalaman dengan beliau dan menanyai nama saya, rasanya benar-benar adem aura seorang ibu dan rasanya kok ibu mertua-able, hehe…

Beliau membuka  obrolan pagi hari itu dengan sedikit bingung dan malu-malu memperkenalkan diri sebagai Kepala Bagian Pelayanan dan Penunjang Medis di RSIA Lombok 22. Malu-malunya Ummi Iswi ini bukan malu-malu kucing tapi bagaimana harus bersikap yang ternyata beliau ini ramah dan ramai diselingi banyak candaan, orang Jawa bilangnya grapyak.

Suami Ummi Iswi adalah seorang dokter anastesi yaitu dr. Arief Basuki yang juga ketua Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI) Wilayah Indonesia Timur. Sayangnya saat itu Ummi Iswi bilang bahwa Dokter Arief berhalangan untuk bergabung sarapan bersama karena ada operasi yang harus ditangani. Tapi tidak melunturkan keluwesan Dokter Iswi untuk membagi pengalaman hidupnya bersama kami. Ada banyak hal yang saya kagumi saat mengobrol bersama dan semakin terasa bahwa beliau adalah ibu yang seru.

Sosok Wanita Inspiratif

dokumentasi pribadi
dokumentasi pribadi

Jiwa sosial Ummi Iswiyanti Widyawati lebih dari cukup untuk bisa saya sebut sebagai wanita yang menginspirasi. Meskipun menjadi ibu dari enam orang anak dan seorang dokter, sepertinya stok waktu yang dimiliki Ummi Iswi ini sangat banyak. Beliau membina sebuah Rumah Quran di Jagiran 1 nomor 8. Tidak hanya itu, beliau juga aktif di beberapa Lembaga Swadaya Masyarakat seperti LSM Hope (yang bergerak dan peduli tentang bahaya penyalahgunaan narkoba) dan LSM 123 yang fokus pada anak jalanan.

Tidak berhenti di situ, Ummi Iswi yang sebagai ketua di Yayasan Harapan Muslimah juga mendonasikan waktu dan tenaganya untuk membantu negara-negara di Timur Tengah yang sedang berkonflik. Pada tahun 2003 beliau berangkat ke Irak bersama sang suami. Tahun 2006 juga berangkat ke Lebanon sebagai tenaga medis. Di sana beliau berada di pengungsian Palestina yang sudah ada sejak puluhan tahun lalu. Itu berarti para pengungsi yang tinggal di sana sudah banyak yang berkeluarga dan melahirkan anak keturunanya. Namun kondisi di sana sangat terbatas selayaknya di pengungsian meskipun sudah puluhan tahun. Bahkan sangat terbiasa melihat ada anak yang cacat akibat konflik peperangan. Begitulah cerita  Ummi Iswi mengenang hari-harinya selama di sana.

Perjalanan beliau untuk misi kemanusiaan tidak hanya berhenti di tahun 2006, baru-baru ini beliau juga berada di Palestina. Saat bercerita tentang ini teman-teman yang hadir banyak yang bertanya, apakah Ummi Iswi tidak khawatir untuk melakukan misi kemanusiaan di daerah konflik? Seperti yang beberapa waktu lalu kita dengar ada tenaga medis yang gugur. Tapi jawaban beliau mengejutkan dan membuat saya berpikir, ya benar juga kata beliau. Yang Dokter Iswiyanti Widyawati katakan adalah “Yang berperang juga banyak yang hidup dan yang tidak berperang saja banyak yang mati. Jadi mau perang atau tidak kalau sudah waktunya mati ya mati.” Begitu beliau menutup dengan tertawa seakan tidak ada yang perlu dipusingkan dalam hidup.

Dengan perjalanan yang luar biasa itu Ummi Iswi yang juga alumnus FK Unair itu diamanahi untuk menjadi caleg komisi 9 Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Dapil Surabaya Sidoarjo. Belum selesai bercerita tentunya kami bertanya kenapa harus menjadi caleg? Padahal kegiatan beliau sudah sangat banyak. Ternyata beliau tidak mengajukan diri, namun diamanahi karena sederet aksi kemanusiaan yang sudah dilakukan. “Saya pribadi memandang amanah seperti ini juga berat tapi harus ikhlas. Saya tidak alergi tentang politik karena jika politik tidak diisi oleh orang-orang baik maka akan diisi oleh orang yang tidak baik.” Imbuh Ummi Iswi.

Beliau adalah orang yang bergerak di bidang pendidikan dan sudah berpengalaman dala berbagai aksi kemanusiaan bahkan terjun langsung ke daerah konflik. Salah satu yang menjadi konsentrasi beliau adalah tentang program BPJS yang sangat dibutuhkan masyarakat. Menurut beliau program BPJS yang baik ini masih perlu banyak peningkatan yang hanya bisa diatur dengan regulasi perundang-undangan. Dan beliau berharap jika keterwakilan beliau kelak bisa berkontribusi untuk peningkatan kuliatas BPJS ini.

Sederet cerita Dokter Iswiyanti yang sangat menginspirasi itu ternyata berangkat dari didikan orang tua. Meskipun lahir di Nganjuk, salah satu kabupaten kecil di Jawa Timur. Ternyata orang tua Ummi Iswi sudah mengenalkan tentang isu sosial dan dakwah sedari kecil. Ayahnya setiap pagi mendengarkan Radio BBC untuk mengetahui isu-isu terkini di dunia. Dan dari ayahnya pula beliau belajar ikhlas untuk berjuang di Jalan Allah. Ayahnya seorang Hizbullah yang mengajarkan pentingnya berbagi untuk sesama.

Sebelum sarapan pagi bersama Ummi Iswi selesai, suami beliau dr. Arief Basuki datang setelah menyelesaikan operasi. Ternyata sosok beliau juga tidak kalah menyenangkan. Dari gesture terlihat sangat menyayangi Ummi Iswi dan banyak bercanda. Hal ini membuat bayangan saya akan keluarga dokter yang sangat kaku jadi hilang seketika. Rasanya ingin saya berbisik tolong angkat saya jadi menantu Ummi dan bapak yang menyenangkan ini, eeeehh… hahaha.

Saat saya bertanya apakah dr. Arief memiliki dokumentasi saat berada di Timur Tengah, beliau menjawab ada tapi ada di BSMI pusat dan tidak banyak. Pergi untuk misi kemanusiaan tidak sempat memikirkan banyak dokumentasi yang bagus-bagus tambahnya. Dan saya jadi teringat pertanyaan salah peserta di kelas pengabdian masyarakat kepada saya, kata peserta itu bagaimana seharusnya bergerak mengabdi pada masyarakat? Saya jawab jalani saja hidup seperti biasanya tidak perlu mengharapkan dunia tau nama kita, dunia hanya perlu merasakan manfaat adanya kita. Masya Allah… Keluarga Ummi Iswi mengingatkan saya akan hal ini.

Sosok Ibu (mertua) Idaman

dokumentasi pribadi

Dokter Iswiyanti Widyawati selain sibuk dengan aksi kemanusiaannya, juga merupakan sosok ibu bagi lima orang anak. Dengan berbagai kegiatan saya bisa menebak beliau adalah sosok ibu yang disiplin bagi anak-anaknya. Empat orang anak beliau mengenyam pendidikan di pesantren. Anak-anaknya juga dididik untuk menghafal Al-Quran. Bagi beliau, menghafal Al-Quran adalah cara untuk menjaga anak agar selalu di jalan kebaikan. Bagi saya salah satu cara mendidik beliau adalah salah satu bentuk kasih sayang terhadap anak  secara nyata.

Menepis kesan keluarga dokter selalu terlihat menggunakan barang-barang bermerek, Ummi Iswi selalu mengajarkan pada anak bahwa membeli sesuatu harus sesuai dengan kebutuhan. Bahkan saat anaknya meminta untuk membeli barang dengan merek tertentu, beliau nyeletuk “sebenarnya yang penting itu barangnya atau mereknya?” tapi dengan bahasa dan logat Jawa yang khas. Tidak membiasakan hidup bermewah-mewah dan mencukupkan diri memenuhi kebutuhan bukan keinginan adalah salah satu didikan yang saya kagumi.

Memberikan kebebasan anak untuk memilih impiannya sendiri merupakan suatu keputusan yang paling disukai oleh seorang anak. Begitu pula keluarga Ummi Iswi kepada anak-anaknya. Mereka tidak dipaksa untuk mengikuti jejak orang tua sebagai dokter. Tapi beliau juga selalu mengenalkan anak dengan segudang kegiatannya agar anak juga mengerti apa yang orang tuanya kerjakan di luar rumah. Seperti saat kami sarapan bersama kemarin, seluruh anak dan satu orang cucunya juga diajak.

Cara beliau berinteraksi dan mendidik anak mengingatkan saya pada kata-kata kakak ipar saya. Yaitu sosok ibu mertua yang selalu mendidik anak dengan penuh kasih sayang dan juga menyenangkan dalam berkomunikasi itu penting. Menikmati pagi yang menyenangkan bersama Ummi Iswi memberikan kesan mendalam bagi saya, tidak hanya belajar bagaimana menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesama tapi juga berakibat ingin memanggil beliau dengan sebutan mama. Kenapa? Karena beliau disiplin tapi juga menyenangkan, hehe… Sebelum itu saya juga berharap hidup saya bermanfaat untuk banyak orang seperti beliau, mungkin suatu saat bisa dapat bonus mama mertua seperti Ummi Iswi.

Leave a Reply

Close Menu
×
×

Cart