Ibadah

Ibadah

 

oleh Dr. Widya Eka Nugraha,

February 10, 2014

 

Sebagai seorang dokter saya dididik untuk menjadi seorang perfeksionis. Semua yang dilakukan dalam kerangka kerja seorang dokter haruslah sempurna, tidak boleh salah sedikit pun. Bahkan dalam soal bahasa pun juga begitu. Ketika menyebut nama suatu organ misalnya, tidak boleh keliru satu kata pun.

 

Termasuk istilah granulationes arachnoidea Pacchioni.

 

Demikian juga di dalam laboratorium. Tidak boleh ada kesalahan sepele seperti menyentuh leher botol. Apalagi kesalahan fatal seperti lupa cuci tangan dengan bersih. Semua itu dilakukan untuk menghindarkan kontaminasi. Kesempurnaan terutama dituntut ketika menyangkut tindakan terhadap tubuh manusia, seperti menjahit, operasi ringan, dan sebagainya.

 

Nah, yang menarik adalah ketika selesai berurusan dengan laboratorium, saya menunaikan sholat. Selang beberapa rakaat, tiba-tiba Deg! Saya lupa. Ini sudah rakaat ke berapa ya?

 

Setelah peristiwa itu saya jadi merenung, kenapa kalau urusan duniawi, saya bisa demikian bersungguh-sungguh dan berkonsentrasi. Sementara, ketika berhadapan dengan Tuhan, bisa-bisanya lupa dan tidak konsentrasi?

 

***

 

Sebagai Muslim, kita mengenal rukun Islam, rukun iman, dan ihsan. Bila diibaratkan rukun Islam adalah komitmen operasional dan rukun iman adala komitmen moral, maka ihsan bisa disebut sebagai kualitas operasional.

 

Seseorang bisa saja menunaikan komitmen operasional, seperti mengucapkan dua kalimat syahadat, sholat dan seterusnya. Tetapi ia belum disebut beriman sampai memenuhi komitmen moralnya: meyakini Allah, para Malaikat, Nabi dan Rasul, dan seterusnya.

 

Kualitas dari komitmen operasional yang dilakukan seorang Muslim, ditentukan oleh kesadarannya akan pengawasan Allah secara langsung terhadap semua aktivitasnya. Itulah ihsan.

 

 

Maka, sebagaimana seorang mahasiswa kedokteran memberikan yang terbaik ketika diawasi oleh dosennya, seharusnya begitu jugalah seorang Muslim memberikan yang terbaik dihadapan Allah subhanahu wa ta’ala.

 

Padahal pengawasan Allah 24 jam sehari, tujuh hari seminggu, dan meliputi apa yang nampak dan tersembunyi dalam hati!

 

Maka, bukankah seharusnya kita memberikan yang lebih baik lagi dalam urusan yang demikian itu?

 

 

***

 

Sesungguhnya, seluruh kehidupan kita ini dapat dinilai ibadah, karena memang kita diciptakan untuk itu.

 

Di dalam beribadah, ada orang yang menjadikan ibadahnya sebagai penawar rasa takut (khauf). Sehingga, ia beribadah karena takut dan khawatir akan mendapat siksa neraka bila tidak beribadah.

 

Ada juga orang yang beribadah karena mengharapkan (raja’) perdagangan dari Allah, berupa pahala yang mengantarkan kepada surga.

 

Tetapi, ada juga orang yang beribadah sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah atas segala karunia-Nya.

 

Dalam menentukan kualitas dari ibadah tersebut, ada tiga elemen yang perlu diperhatikan, yaitu:

 

  1. Niat yang ikhlas
  2. Amal yang profesional
  3. Penyelesaian yang baik.

 

Wah, kedengarannya teoritis sekali ya?

 

Untuk gampangnya, mari kita gunakan ilustrasi berikut:

 

Kita berangkat ke kampus setiap hari, bagaimana ketiga elemen di atas bisa membantu meningkatkan kualitas dari ibadah?

 

Ketika berangkat ke kampus niatkanlah untuk mencari ridla Allah, melalui niat berikut:

 

  1. Bersyukur telah diberi kesempatan menuntut ilmu.
  2. Menjaga kesehatan tubuh karunia Allah dengan jalan kaki ke kampus.
  3. Bersilaturahim dengan teman, pegawai, dan dosen di kampus.
  4. Membahagiakan orang tua yang membiayai kita.
  5. Menjadi sarana kebaikan dengan memberikan teladan yang baik.

 

 

See? Sebenarnya dalam satu momen aktivitas harian kita saja ada begitu banyak niat ibadah yang bisa dicapai.

 

Padahal, aktivitas kita ada ribuan setiap harinya!

 

Kemudian, setelah menyempurnakan niat, kita jadikan amalan kita berangkat ke kampus sebagai amal yang profesional, dengan:

 

  1. Datang on time, jadi teladan, bukan telatan.
  2. Menghormati dosen, menyayangi teman.
  3. Belajar dengan sungguh-sungguh, berprestasi.
  4. Mengamalkan ilmu yang sudah didapatkan.

 

Lalu bagaimana dengan penyelesaian yang baik? Sistem pendidikan kita di kampus punya sarana evaluasi berupa quiz, ujian, dan pembuatan skripsi. Berikan yang terbaik dalam menempuh itu semua. Jangan mencontek!

 

Lakukan itu semua dengan kesadaran penuh bahwa Allah mengawasi kita setiap saat.

 

Indah sekali, bukan?

 

***

 

Ihsan, kata yang indah sekali. Tetapi pelaksanaannya tidak mudah. Butuh latihan seumur hidup untuk menyempurnakannya. Tetapi balasannya sepadan:

 

Allah mencintai orang-orang yang ihsan.

 

Semoga kita termasuk di dalamnya. aamiin.

 

*disarikan dari nasihat Ustadz Rahmat Yanuar.

 

 

Leave a Reply

Close Menu
×
×

Cart